Sekolah top Singapura menemukan cara baru untuk melibatkan dan mendidik siswinya.

Buku interaktif dan aplikasi di iPad membantu siswinya agar unggul di sekolah khusus putri yang bersejarah ini.

Inspirasi

Di awal abad ke-20, Singapura mengalami perubahan pesat. Jauh sebelum merdeka, kota ini telah menjadi persimpangan dunia yang maju dan makmur — tempat di mana ide baru dengan cepat berakar dan bertumbuh.

Nanyang Girls’ High School, salah satu sekolah negeri terbaik di Singapura, berdiri sejak era penuh optimistisme dan antusiasme. Sekolah ini dilandasi oleh gagasan yang dianggap revolusioner pada saat itu, di mana anak perempuan, seperti halnya anak laki-laki, perlu pendidikan agar dapat mewujudkan potensi maksimal mereka.

"Para pendiri sekolah percaya bahwa kita memerlukan perempuan yang cakap untuk membangun masyarakat yang baik," tutur wakil kepala sekolah Dr. Seah-Tay Hui Yong. “Perempuan tidak hanya perlu dibesarkan secara kognitif, tetapi juga dibangun karakternya dan menjadi penggerak dalam masyarakat.”

"Kita perlu menggunakan sarana dan pendekatan menarik, sehingga mereka menjadi pelajar yang mandiri."

— Madam Heng Boey Hong, Kepala Sekolah,
Nanyang Girls’ High School

Ketika didirikan pada tahun 1917, sekolah ini berlokasi di ruko sederhana di Singapura dan hanya memiliki 100 siswi. Jauh berbeda dengan kampus saat ini, yang merupakan fasilitas megah seluas 3,6 hektar dengan sumber daya seperti ruang kelas yang dilengkapi akses Internet broadband. Nanyang saat ini adalah sekolah dengan tuntutan akademis yang tinggi dan memiliki 1700 siswi. Alumninya telah menjadi pejabat pemerintah terkemuka, ilmuwan, musisi, profesional media, dan pendidik.

Mendekati abad keduanya, Nanyang Girls’ High School kembali dengan metode pembelajaran yang revolusioner. Dengan meletakkan iPad di tangan guru dan siswi, sekolah ini telah menemukan cara inovatif menghubungkan kelas dengan dunia yang lebih besar. Dengan aplikasi dan buku Multi-Touch di iPad, tugas rutin sekolah berubah menjadi eksplorasi interaktif sehingga menantang siswi untuk menyempurnakan setiap pelajaran dan berkontribusi lebih besar.

"Siswi zaman sekarang berbeda dengan zaman kami," kata Madam Heng Boey Hong, kepala sekolah saat ini. "Kita perlu menggunakan sarana dan pendekatan yang menarik bagi siswi, sehingga mereka menjadi pelajar yang mandiri. iPad telah membuat mereka lebih antusias datang ke kelas. Mereka lebih terdorong menunjukkan apa yang mereka pelajari kepada guru dan teman sekolah, dan berbagi ilmu tersebut.''

Penerapan

Dulu kelas-kelas di Nanyang Girls’ High School mengikuti metode pendidikan tradisional. Guru mengajar, siswi mendengar, dan pelajaran dibatasi dalam ruang kelas.

Namun guru dan administrator sekolah menginginkan lebih bagi siswi mereka. Mereka ingin memupuk kepercayaan diri dan kolaborasi yang lebih besar, dan menyediakan sumber daya yang akan mendorong siswi untuk lebih berpartisipasi dalam proses belajar.

''Dengan iPad, siswi dapat mencari pengetahuan dasar sendiri, jadi pertanyaan yang mereka ajukan adalah pertanyaan tingkat lanjut.''

— Dr. Seah-Tay Hui Yong, Wakil Kepala Sekolah
Nanyang Girls’ High School

Jadi, pada tahun 2011, Nanyang Girls’ High School memprakarsai program one-to-one dalam memperkenalkan iPad kepada guru dan siswi selama periode dua tahun. Program ini dimulai dengan satu tingkat kelas dan perlahan-lahan mencakup seluruh siswi di sekolah.

Guru matematika sampai bahasa Mandarin dipilih untuk mengeksplorasi kemungkinan mengajar dengan iPad. Kekuatan baterai yang panjang dan konektivitas Wi-Fi yang mudah, memungkinkan diperluasnya pelajaran hingga ke luar dinding kelas konvensional. Dan guru segera menemukan cara inovatif mereka sendiri membuat kelas lebih menarik lewat buku interaktif buatan mereka sendiri dan menggunakan aplikasi untuk mendemonstrasikan konsep dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Dengan iBooks Author pada Mac, guru sejarah Ong Lee Hua menyusun buku Multi-Touch yang menarik untuk pelajaran tentang kerusuhan bus Hock Lee, di mana pekerja dan pelajar yang berunjuk rasa bentrok dengan polisi di Singapura pasca-Perang Dunia II. Selain membaca teks dan melihat foto kejadian di iPad, kelas dapat menonton klip video sejarah, mendengarkan lagu dari era tersebut, dan menguji pengetahuan mereka dengan pertanyaan kuis. Jika mereka menemukan istilah yang belum dikenal, mereka cukup mengetuk untuk memilih kata tersebut dan menemukan definisinya.

"Fitur interaktif ini tentu menarik perhatian dan lebih melibatkan siswi," kata Ong. "Sebagian siswi lebih suka menonton video. Pesan dapat disampaikan kepada mereka dengan lebih mudah, dan mata pelajaran menjadi jauh lebih menarik dan hidup."

Di kelas seni bahasa Cressandra Tan, iPad membantu siswi berkolaborasi dalam sebuah proyek yang menganalisa Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Siswi dan guru bertukar ide dan menjawab pertanyaan satu sama lain di forum online, serta membuat presentasi di Keynote pada iPad — lengkap dengan animasi dan grafik — untuk dibagikan dengan teman-teman mereka.

''iPad telah mengubah cara guru dan siswi berinteraksi. Pengajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas — sekarang, belajar itu lebih kepada pendekatan realistis."

— Mark Shone, Guru,
Nanyang Girls’ High School

"Elemen kolaboratif dari penggunaan iPad memang cukup relevan dalam dunia sekarang," kata Tan. "Tidak hanya bergantung pada kekuatan Anda sendiri, tapi juga kekuatan kelompok Anda. Dengan iPad, siswi bisa membuat catatan dan referensi dari opini orang lain dengan mudah. Mereka bisa melihat apa yang dikirim oleh orang lain, dan belajar dari satu sama lain."

Bagi guru fisika Mark Shone, iPad menawarkan cara untuk membawa metode ilmiah keluar dari lab dan masuk ke dunia yang sesungguhnya. “Siswi membangun dan meluncurkan roket air, dan menggunakan iPad serta aplikasinya untuk mendokumentasikan proses, mengukur sudut peluncuran, membuat grafik waktu kecepatan, dan memetakan lintasan roket," ujarnya.

Menggunakan kamera video HD bawaan dan aplikasi sains yang dirancang untuk iPad, siswi dapat memahami fisika di balik tiap peluncuran roket pada saat itu juga. “Mereka bersenang-senang sambil belajar kinematika,” ujar Shone. Dengan aplikasi-aplikasi ini, semua langsung muncul di hadapan Anda.''

Hasilnya

Saat ini, hampir semua guru dan siswi di Nanyang Girls’ High School memiliki iPad. Siswi menggunakan iPad sepanjang hari untuk mengakses materi pelajaran, membuat catatan, mengikuti diskusi virtual, dan mencari informasi online tentang topik yang mereka pelajari.

Dampak iPad benar-benar luar biasa. Siswi yang pemalu lebih berani berbicara dalam kelas dan lebih siap berpartisipasi dalam diskusi online. Karena iPad mudah dibawa ke mana saja, siswi dapat berkolaborasi untuk tugas kelompok di mana saja di luar jam sekolah. Dan peneliti akademis yang ditugaskan untuk mengevaluasi interaksi siswi di Nanyang mendapati bahwa dengan adanya iPad di kelas, siswi mengajukan pertanyaan yang menunjukkan pemahaman dan keterlibatan yang lebih besar.

''Elemen kolaboratif dari penggunaan iPad memang cukup relevan dalam dunia sekarang. Tidak hanya bergantung pada kekuatan Anda sendiri, tapi juga kekuatan kelompok Anda."

— Cressandra Tan, Guru,
Nanyang Girls’ High School

''Dengan iPad, siswi dapat mencari pengetahuan dasar sendiri, jadi pertanyaan yang mereka ajukan adalah pertanyaan tingkat lanjut," jelas Dr. Seah.

Baik itu merancang percobaan ilmiah atau mendokumentasikan hasilnya, bertukar ide tentang sastra atau mempresentasikannya di depan kelas, para siswi terinspirasi untuk meraih lebih banyak hal ketika iPad menghidupkan setiap pelajaran. "iPad telah mengubah cara guru dan siswi berinteraksi," kata Shone. "Pengajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas — sekarang, belajar itu lebih kepada pendekatan realistis."

Lebih dari semua itu, iPad membantu memastikan bahwa siswi Nanyang Girls’ High School siap meraih keberhasilan di masa depan, ke mana pun jalan menuntun mereka.

"Setelah mencoba iPad, saya menemukan bahwa ini benar-benar arah yang tepat untuk dituju," kata Madam Heng. "Kami bisa memanfaatkan semangat dan energi dari teknologi ini, dan mendorong siswi untuk terus bereksplorasi, terus menikmati proses belajar, dan terus melihat keterkaitan mereka dengan komunitas, masyarakat, dan keluarga."

Aplikasi yang digunakan

Keynote

Buat dan bagikan presentasi pendidikan yang memukau di iPad. Selengkapnya tentang Keynote untuk iOS

GarageBand

Ubah iPad menjadi studio rekaman lengkap yang memiliki instrumen visual, loop drum, dan pelajaran-musik-bawaan. Selengkapnya tentang GarageBand di iOS

iBooks

Baca, cari, dan tandai buku Multi-Touch serta PDF, termasuk materi pelajaran yang dinamis dengan klip video dan kuis yang dibuat di iBooks Author. Selengkapnya tentang iBooks untuk iOS

Clinometer HD

Ukur sudut kemiringan dan kelandaian menggunakan sisi iPad Anda. Selengkapnya tentang Clinometer HD

Bamboo Paper

Catat tulisan tangan, ide, dan gambar di buku catatan digital di iPad. Selengkapnya tentang Bamboo Paper